Permen
adalah salah satu jenis makanan instant yang hampir disukai di semua kalangan,
baik anak-anak hingga dewasapun juga menyukai permen. Pada
umumnya orang mengkonsumsi permen dengan maksud untuk memperoleh gizi makanan
tersebut. Seseorang mengkonsumsi permen karena menyukai permen dan produk-produk sejenisnya sebagai fun
food dan snack food. Karena produk-produk permen menyenangkan untuk
dikonsumsi, tidak jarang orang mengkonsumsi dalam jumlah yang banyak sebagai
penunda rasa lapar.
Tetapi
tahukah engkau, dampak negatif yang akan muncul pada kesehatan jika kita
mengkonsumsi permen secara berlebihan??? Jika kita berlebihan mengkonsumsi
permen, maka tidak menutup kemungkinan kita akan mengalami
gangguan pada sistem saraf, pertumbuhan fisik terhambat, gangguan reproduksi,
peka terhadap penyakit infeksi, kelumpuhan dan kematian dini, serta dapat juga
menurunkan tingkat kecerdasan anak karena mengandung logam timbal (Pb).
Pada permen dapat mengandung logam berat timbal (Pb)
karena beberapa faktor, diantaranya yaitu: Pertama, dilihat dari faktor bahan
dasar pembuatan permen (kembang gula) yang berbahan dasar gula pasir, air,
serta sukrosa yang telah terkontaminasi oleh logam timbal (Pb). Gula pasir di Indonesia memiliki standar SNI No. 3547.1:2008 tentang syarat mutu gula dengan kriteria uji cemaran logam
timbal (Pb) maksimal 2,0 mg/kg.
Keberadaan logam berat timbal (Pb) pada air yang digunakan sebagai salah satu
bahan dasar pembuatan permen adalah maksimal mengandung 0,01 ppm. Kemasan plastik berfilm PVC yang dapat mengakibatkan migrasi dari kemasan
menuju permen adalah mengandung logam berat dengan kadar maksimal logam timbal
(Pb) adalah 100 ppm. Dalam plastik berfilm PVC yang berwarna hijau dan kuning menggunakan tinta yang berbahan dasar
pigmen seperti PbCrO4, PbSO4, dan PbO2 dengan
kadar timbal yang tinggi sehingga dapat mengakibatkan adanya migrasi atom
timbal (Pb) selama digunakan sebagai media pengemas hard candy.
Faktor lain
penyebab adanya cemaran logam timbal (Pb) dalam permen adalah pada alat dan mesin produksi yang telah mengalami korosi baik
yang telah mengalami korosi maupun karena efek dari penambahan zat aditif yang
telah mengandung atau mengakibatkan cemaran logam dalam produk permen dapat mengakibatkan terjadinya korosif
adalah asam organik, nitrat, oxidizing agent, atau bahan pereduksi, penyimpanan, suhu,
dan kelembaban.
Kadar logam timbal (Pb)
tersebut dapat diketahui dengan melakukan sebuah penelitian kimia. Penelitian
kimia terkait analisis kadar timbal (Pb) dalam permen dengan menggunakan metode
destruksi basah konvensional. Agar hasil penelitian lebih memuaskan, maka
digunakanlah variasi metode penelitian pada penggunaan larutan pendestruksi.
Penelitian kimia ini dilakukan pada 5 jenis permen hard candy berkemasan
plastik film PVC. Penggunaan kemasan plastik berfilm PVC juga dapat menyebabkan
adanya migrasi unsur timbal (Pb) dari kemasan menuju ke produk permen. Hipotesa
lain penyebab adanya timbal (Pb) dalam produk permen diantaranya adalah faktor
bahan baku permen yang telah mengandung timbal (Pb), proses pengolahan permen
dengan alat – alat produksi berbahan dasar logam dengan adanya pemanasan yang
mengakibatkan adanya timbal (Pb) masuk dalam hasil olahan, serta zat-zat aditif
dalam produksi permen baik pewarna, pengawet, dan lain sebagainya yang
mengandung unsur timbal (Pb).
Sebuah penelitian kimia
terkait cemaran timbal (Pb) dalam beberapa sampel produk permen ditunjukkan dalam
tabel data hasil pengamatan berikut:
|
No
|
Kadar Terdeteksi Timbal (Pb) pada Jenis Sampel (mg/L)
|
||||
|
A (Susu)
|
B (Kopi)
|
C (Asam)
|
D (Mint)
|
E (Mint dan asam)
|
|
|
2,113
|
2,067
|
2,03
|
2,15
|
2,13
|
|
Hasil
penelitian The National Food Processor Association mengungkapkan,
kehadiran partikel Pb merupakan salah satu sumber kontaminasi di dalam produk
makanan atau minuman. Gejala dan tanda-tanda secara klinis akibat terpapar Pb
yang toimbul akan berbeda. Timbal di udara yang dihirup manusia dapat
menimbulkan gejala-gejala seperti kram perut, kolik, dan biasanya diawali
dengan sembelit, mual, muntah-muntah. Sedangkan akibat akibat yang lebih
seperti ssakit kepala, bingung atau pikirankacau, sering pingsan dan koma. Pada
anak-anak nafsu makan berkurang, sakit perut dan muntah, bergerak terasa kaku,
kelemahan, tidak ingin bermain, peka terhadap rangsangan, sulit berbicara dan
gangguan pertumbuhan otak dan koma.
Keracunan
Pb secara kronis berjalan lambat. Kelelahan, kelesuan, dan iritabilitas merupakan
tanda awal dari intoksidasi Pb secara kronis. Dan paparan dengan dosis rendah
sudah menimbulkan efek yang merugikan pada perkembangan dan fungsi dari sistem
saraf pusat. Gejala lainnya adalah kehilangan libido, gangguan menstruasi, serta aborsi spontan pada wanita.
Berbagai dalam rangka mencegah dan mengurangi pencemaran Pb. Upaya tersebut
diantanya adalah dengan menghindari penggunaan peralatan-peralatan dapur atau
tempat makanan atau minuman yang diduga m,engandung Pb misalnya keramik berlangsung,
wadah yang dipatri atau mengandung cat, dan lain-lain.
Selain itu bahaya timbal pada
balita dan anak anak adalah dapat menyebabkan gangguan belajar, pertumbuhan
yang terhambat, hiperaktivitas, gangguan pendengaran, dan mungkin juga terjadi
kerusakan pada otak, jika pajanannya besar. Jika diketahui secara dini efek
tersebut dapat diminimalkan dengan menghentikan pajanan atau dengan terapi
medis.
Yang mengejutkan ternyata timbal juga terkandung pada pembungkus makanan-makanan yang di konsumsi oleh anak-anak. Kemasan permen yang warnanya cukup ngejreng alias warna-warni kemungkinan mengandung timbal. Pada saat anak memegang bungkus tersebut, membukanya dan memasukkan permen dalam mulutnya, Saat itu timbal masuk ke dalam saluran pencernaan dan perlahan-lahan akan tertimbun dalam tubuh hingga kadar tertentu akan menimbulkan gangguan kesehatan pada anak anak. Termasuk makanan yang dibungkus kertas koran, karena tinta pada koran mengandung timbal.
Yang mengejutkan ternyata timbal juga terkandung pada pembungkus makanan-makanan yang di konsumsi oleh anak-anak. Kemasan permen yang warnanya cukup ngejreng alias warna-warni kemungkinan mengandung timbal. Pada saat anak memegang bungkus tersebut, membukanya dan memasukkan permen dalam mulutnya, Saat itu timbal masuk ke dalam saluran pencernaan dan perlahan-lahan akan tertimbun dalam tubuh hingga kadar tertentu akan menimbulkan gangguan kesehatan pada anak anak. Termasuk makanan yang dibungkus kertas koran, karena tinta pada koran mengandung timbal.
Oleh
karena itu, mulai saat ini mari kita budayakan hidup sehat dengan memiliki pola
hidup sehat. Lebih baik mencegah daripada mengobati, hidup sehat itu tidak
harus mahal. Yang sederhana jika kita mengertti akan sebuah Dengan menjaga
makanan yang kita konsumsi setiap hari. Kita budayakan 3M yaitu Mulai Dari Hal
Yang Terkecil, Mulai Dari Diri Kita, dan Mulai Saat Ini.
